The Second

Waktu beranjak pukul satu dini hari tepatnya hari selasa 22 juni 2010 istriku mulai merasa kesakitan akibat kontraksi dari kehamilannya yang sudah memasuki 39 minggu atau sembilan bulan lebih.

karena ini adalah kehamilan keduanya saya tidak begitu panik atau kebingungan seperti halnya kelahiran pertama anak kami Aidan. saat ini segala sesuatunya sudah di kita persiapkan. termasuk menghadapi pendarahan hebat yang kemungkinan besar -menurut keterangan dokter- akan terjadi dalam persalinan anak kedua kami ini.

Plasenta Previa Lateralis merupakan kondisi terakhir kehamilan istri saya ini Placenta-previa artinya “plasenta di depan” (previa=depan). Artinya, plasenta berada lebih “depan” daripada janin yang hendak keluar. Angka kejadiannya sekitar 3-6 dari 1000 kehamilan.

Setelan menunggu beberapa saat kemudian kami bergegas menuju ke Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura.

Suasana di Rumah Sakit tidak begitu ramai bahkan kalau mau dibilang sangat sepi karena jarang sekali terlihat orang lalu lalang. setelah melapor di instalasi Gawat Darurat istriku di antar ke ruangan bersalin yang terletak tidak jauh dari Ruangan IGD tadi.

Kesan pertama yang saya rasakan sewaktu bertemu dengan para bidan yang sedang bertugas di ruang persalinan adalah Ramah benarlah kalau dalam Bahasa Inggris Rumah sakit = Hospital. Hospitality dari petugas ruang bersalin sangat bagus dan benar2 bisa di buktikan dan itu beda dengan Rumah sakit lain yang pernah kami kunjungi. Sebagai Petugas Rumah Sakit sudah sewajarnya Ramah terhadap semua pasiennya.

Detik demi detik menit demi menit telah di lalui. suasana di dalam kamar bersalin Rumah Sakit itu sangat tenang. alat-alat yang ada disana terkesan sederhana saja namun dapat di manfaatkan secara efektif oleh para perawat yang ada.

Karena Sesekali istriku mengeluarkan darah -seperti yang di katakan dokter, istriku di infus untuk menjaga agar tidak kekurangan darah. saya tidak tau obat apa yang di gunakan namun saya percaya bahwa para perawat tau apa yang akan mereka lakukan untuk menolong istri saya.

Entah karena sudah saatnya kontraksi, atau karena suntikan infus yang di berikan perawat telah memicu terjadinya kontraksi terjadilah pendarahan hebat saat bidan sedang berusaha melakukan persalinan normal pada istriku.

Persalinan normal kemungkinannya sangat kecil, kita berusahan namun Tuhan yang menentukan. saat pendarahan seorang perawat memeriksa kondisi detak jantung bayi yang ada dalam kandungan alhamdulillah kondisinya baik sekali itu terlihat dari rekaman alat yang menunjukan angka 149 saya tidak begitu paham dengan angka2 itu namun yang saya tau bayi kami sehat bahkan sangat sehat.

Saat kurang 5 menit dari pukul lima pagi itu, saya di pangil oleh perawat dan di berikan penjelasan terakhir mengenai kondisi istri dan bayi saya. mereka mengatakan bahwa kelahiran normal akan susah sekali di laksanakan mengingat darah yang keluar sudah cukup banyak dan posisinya baru “pembukaan” dua [masih sangat lama untuk melahirkan normal]. menurut mereka para perawat walaupun kondisi bayinya sangat sehat tapi kita tidak bisa mengabaikan kondisi ibu yang akan kekurangan darah bila di biarkan menunggu.

Setelah berembuk beberapa saat dengan perawat, Dokter dan keluarga akhirnya saya menyetujui di laksanakan operasi caesar. saya menandatangani beberapa surat pernyataan. dan tepat pukul 05.00 wit istri saya di antar masuk ke ruangan operasi.

Saya dan keluarga lain ditak lagi di perkenankan masuk ke daerah ruang operasi dan di sarankan untuk menunggu di ruang tunggu saja. agak sedikit gelisah saya menunggu namun tetap yakin kalau semuanya akan baik-baik saja dan semuanya itu di tandai dengan tangisan yang terdengar begitu nyaring dari dalam ruangan operasi rumah sakit itu. terus terang saya tidak langsung ingin melihat bayi saya karena yang ada di benak saya adalah istriku. mengingat sebelum di operasi saja dia sudah banyak mengeluarkan darah, di tambah dengan irisan pada bagian perut di meja operasi yang akan mengeluarkan banyak darah. Hal inilah yang saya pikirkan dan yang segera saya tanyakan kepada petugas kamar operasi.

Perasaan campur aduk semuanya bercampur menjadi satu setelah mendengar bahwa istri saya selamat walaupun mengeluarkan sangat banyak darah saat proses persalinan normal dan operasi bertepatan dengan itu bayi kami di keluarkan dari ruang operasi yang selanjutnya di antarkan ke Ruang perawatan bayi.

Dengan berat 3,5kilo gram, panjang 50 cm dia terbaring kelelahan di keranjang nya.

Dialah “The Second” yang kami beri nama zLatan Aiman An-Noer Wanggai. zLatan berarti Sang penyelamat (swedia), Aiman berarti Berberkah/memiliki harapan (Arab), dan An-Noer berarti cahaya (Arab) yang bila di gabungkan nama itu berarti Sang penyelamat yang mempunyai cahaya harapan.


Semoga berkenan

Salam,

Alan Mn / 040710

6 responses to “The Second

  1. Kusuka narasinya .. foto-fotonya bgus .. aku jg SC krn placenta yg melilit d leher Nashwa ..
    but most of all .. Congratulation for your new baby ..

  2. Selamat atas kelahiran putranya Pak!

    btw: kok foto2 RSnya kelihatan kusam ya Pak, seperti kurang cahaya, saya melihatnya jadi seperti kotor🙂
    apa memang seperti itu keadaannya?

    btw: di papua, nama anak apa mengikuti marga ibunya? (saya baca ada nama anak memakai fam wanggai seperti ibunya ya )

Silahkan tinggalkan komentarnya... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s