Memaknai kedatangan kaka kristupa Saragih di Jayapura

Peserta workshop sedang serius mendengarkan materi yang di sampaikan


Ketika kita melakukan sesuatu kegiatan baik secara perorangan ataupun secara kelompok, sebaiknya sesuatu itu haruslah bermanfaat penuh makna. Kalau sesuatu itu tidak mempunyai asas manfaat maka sia-sialah semua.

Kedatangan kaka Kristupa Saragih pendiri Fotografer.net beberapa waktu lalu di jayapura memberikan banyak manfaat bagi saya pribadi dan berharap bagi seluruh anggota Loor [Komunitas Fotografi Jayapura] beserta seluruh peserta workshop modeling photography yang diadakan di Ball Room Hotel Yasmin Jayapura oleh Loor dan bekerja sama dengan Master Community yang dinahkodai oleh kaka Brian.

Workshop yang dilaksanakan pada hari jumat (12/11/10) dan di lanjutkan dengan hunting bareng sang jendral pada keesokan harinya (sabtu 13/11/10) di hadiri sekitar 45 empat puluh lima peserta (lebih banyak dari yang di targetkan yakni 30 orang) dari berbagai kalangan. Mulai dari Pegawai, Pelajar, Mahasiswa, serta Pelayan Hotel seperti saya ini.

Kaka Kristupa juga asik memberikan materinya

Dari segi jumlah untuk suatu workshop mungkin terbilang sangatlah kecil, namun ini merupakan jumlah yang luar biasa untuk suatu kegiatan fotografi yang di lakukan oleh komunitas yang tergolong bayi baru lahir yang sudah barang tentu membutuhkan banyak bimbingan dan dorongan motivasi setidaknya dari anggota komunitas itu sendiri. Terlebih kegiatan ini di laksanakan di kota Jayapura Papua dimana peminat fotografinya pun masih sangat sedikit.

Jumlah peserta bagi saya tidaklah penting, membangun minat dan mengenal fotografi lebih jauh merupakan pencapaian yang ingin sekali kami komunitas fotografi jayapura dapatkan itulah tujuannya workshop ini di adakan.

Saya pernah membaca tulisan dari pemateri kaka Kristupa Saragih beberapa saat sebelum kedatangannya “Fotografi tak hanya soal jumlah, melainkan kualitas karya. Lebih jauh dari itu adalah keeratan hubungan antar-fotografer dan kekentalan hubungan berkomunitas”. Saya berusaha memaknai kalimat yang pernah saya baca ini, dan melihat efek dari kehadiran beliau di jayapura benar-benar berkorelasi sebagai suatu sinkronisasi dari perkataan dan perbuatan yang memang harus di contoh.

Workshop di bagi dalam 3 (tiga) sesi. Sesi pertama berlangsung dari pukul 14.00wit s/d 16.00 membahas mengenai dasar Photography tentang pengenalan alat mulai Kamera, Lensa, Flash, Filter, Tripod, Matering Mode, DOF dll. Ternyata tidak sedikit peserta yang kurang paham dengan istilah-istilah fotografi yang di sampaikan pleh pemateri. Hal pokok yang di sampaikan pada akhir sesi pertama adalah ”Selalu motret dengan benar pada kesempatan pertama”.

Sesi kedua membahas tentang Modeling Photography dimana Komposisi, matering, lighting, dan angle lebih

Banyak pertanyaan teknis yang di sampaikan peserta workshop

disarankan untuk di pahami oleh peserta ketimbang bagaimana caranya bikin foto ini dan itu? Hal ini akan membuat kita larut dalam urusan Alat saja. Disampaikan oleh pemateri kenali alat kita, pahami ilmunya, buatlah foto yang sudah direncanakan dan semua yang di rencanakan ada dalam imajinasi kita hehehe sesuatu yang ”ada” tanpa fakta karena masih di imajinasi sedangkan faktanya di tuangkan dalam fotografi sebagai medianya. Pointnya adalah bagaimana kita memahami ilmunya tidak sekedar pengetahuan belaka di analogikan seperti orang yang masak pake kayu bakar (sebagai pengetahuan) tetapi bingung kalau memasak menggunakan kompor minyak apalagi kalau pake kompor gas. Apilah yang harus di pahami (sebagai ilmu) untuk memasak sehingga mau pakai kayu bakar, pakai, kompor, pakai batu, pakai lilin harusnya bisa di pakai untuk memasak sesuatu demikian juga di fotografi.

Sesi klinik foto

Pada sesi ketiga atau sesi terakhir workshop diadakan klinik foto seluruh peserta mengumpulkan foto karya masing-masing yang di buat sebelum acara workshop, yang akan di bedah bersama antara kristupa dan peserta. pada sesi klinik foto ini kristupa membedah masing2 foto yang di kumpulkan, dijelaskan mulai dari keunggulan masing2 foto, kekurangan dan beberapa hal yang perlu di improve untuk membuat foto lebih baik secara teknis.

Selain masalah teknis fotografi, pemateri memberikan banyak sekali dorongan motivasi yang menurut saya inilah yang dibutuhkan oleh komunitas kami (mungkin juga sebagai pribadi). Tidak sedikit lontaran pesan moral di sampaikan oleh kaka Kristupa mengorek ego kami yang selama ini di tutup erat-erat tanpa memberi ruang sedikitpun untuk di isi oleh kritikan karena selalu merasa bisa tanpa bisa merasa, sesekali juga nasehat yang di sampaikan secara langsung mengasah otak kita yang selama ini hanya di jadikan ”ajimat” menjadi sesuatu yang mengembalikan fungsi otak itu sendiri untuk berfikir sehingga dapat memerintahkan seluruh anggota tubuh melakukan hal yang benar tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri melainkan juga bermanfaat bagi orang lain.

Peserta foto bareng kaka Kristupa

Salah satu pesan yang di sampaikan adalah ”Berkaryalah terus dan persembahkan karya kita itu untuk kepentingan sesama manusia secara ikhlas dan tanpa pamrih”. Merupakan pesan yang mampu membuka mata hati kita yang selama ini tertutup oleh sifat materialistik semata.

Kedatangan kaka Kristupa Saragih tidak memberikan jaminan kita pasti jago dalam hal memotret, tetapi banyak hal yang di dapatkan untuk mengarahkan kita semua ke sana[]

Silahkan tinggalkan komentarnya... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s