Airaa sambut haji di papua

Beberapa saat yang lalu ibu mertua saya dan kakak ipar mendapat rejeki untuk bisa memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji pada musim haji 1431 H / 2010.

seperti pada umumnya orang yang akan berangkat haji melaksanakan Syukuran dengan mengundang kerabat dekat seraya meminta doanya agar mereka yang akan melakukan ibadah ke tanah suci di berikan doa.

Seseorang yang baru pulang dari menjalankan ibadah haji dari tanah suci biasanya disambut keluarga dengan menggunakan rebana, lantunan musik padang pasir berirama gambambus, disambut dengan menggunakan busana gamis ala timur tengah dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan lain yang berhubungan dengan penyambutan haji yang sudah menjadi tradisi.

Fenomena penyambutan haji bukan hanya sampai disitu saja, ada juga yang melakukan konvoi di jalan di ikuti puluhan kendaraan bermotor. hal ini menunjukkan kegembiraan karena keluarga mereka telah tiba dengan selamat.

Beda pula dengan “ritual” yang di lakukan oleh keluarga kami dalam menyambut kedatangan Ibu mertua dan Kakak Ipar saya. keluarga kami melakukan penyambutan yang sangat sederhana namun memiliki makna “Bhineka tunggal ika” yang ada di balik penyambutan ini.

Ibu dan Kakak kami di sambut oleh keluarga besar dari dengan Tradisi “Airaa”. Merupakan tradisi penyambutan dengan melantunkan nyanyian serta tarian yang di iringi alat musik Tifa dari suku Ambai, Serui – Papua.

Tradisi penyambutan ini di tujukan oleh Panglima perang suku Ambai yang telah kembali dari medan perang setelah mengalahkan musuh mereka di sana. Musuh yang di maksudkan dalam penyambutan Haji dalam keluarga kami sudah tentu bukan musuh dalam perang fisik, melainkan musuh sesungguhnya yang ada di dalam hati dari masing-masing manusia.

Setelah itu, mereka yang disambut di wajibkan untuk menginjak 2 buah piring gantung (piring besar) yang sudah di sediakan di depan rumah yang menandakan bahwa kita semua telah selamat sehingga kemenangan yang telah diraih dapat di terapkan ke masyarakat. mungkin artinya “Semoga menjadi Haji yang mambrur”😀.

Tradisi seperti ini jarang sekali terjadi, mengingat dalam keluarga besar kami mayoritas beragama Non muslim tapi Apresiasi dan toleransi mereka patut di ancungi jempol karena walaupun berbeda agama tradisi ini tetap di jalankan kepada sanak keluarga siapapun tanpa melihat latar belakang agama apa mereka. inilah yang saya katakan diatas memiliki makna walaupun berbeda tetapi tetap satu.

Secara pribadi saya pikir, Tradisi semacam ini harus tetap di pelihara dan di maknai dengan baik bagi semua orang. karena disini nilai kearifan lokal dari keberagaman akan terjaga dengan baik.

Berikut beberapa foto liputan saya :

Hj. Ita Nurita Wanggai di sambut dengan Airaa

DR. H. Toni Victor Mandawiri Wanggai, S.Ag, MA

Penyambutan fenomenal yang penuh haru

Keluarga besar

Injak piring di depan rumah

Injak piring juga. Pa aji yang di gantung tuh untuk saya saja yah😀

Baku Rampas...

Para Panglima

Makanan terenak di dunia "Papeda Hot's" menjadi hidangan utama


Salam,
Angkasa, 18 Desember 2010

Nur Alam MN

One response to “Airaa sambut haji di papua

Silahkan tinggalkan komentarnya... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s