I touch Cartenz Pyramid with the heart…

Cartenz Pyramid, Photo By : Google.com

Cartenz Pyramid, Photo By : Google.com

“Melihat pegunungan ini dari atas bagaikan sebuah permadani raksasa indah berwarna hitam yang di selimuti oleh tudung putih cerah secerah hatiku saat itu karena walaupun jauh di bawah sana dia terasa begitu dekat sekali.”

Siapa yang tidak mengenal pegunungan Jayawijaya dengan puncaknya bernama Cartenz? Bahasa aslinya Carstensz Pyramid, atau biasanya di sebut dengan puncak jaya, atau beberapa orang menyebutnya puncak jaya kusuma atau jaya kusuma oleh sebagian orang lainnya.

Pegunungan yang merupakan bagian dari daerah tropis yang seharusnya tidak mungkin bersalju, tapi karena ketinggiannya yang mencapai ± 4.884 meter di atas permukaan laut (Canon Me If Im Wrong :D) memungkinkan puncak ini di selimuti salju yang sering di sebut salju abadi.

Dengan keunikannya itu puncak ini tentunya merupakan salah satu tujuan bagi para petualang yang menyukai tantangan mendaki gunung untuk di “taklukan” mengingat inilah satu-satunya gunung yang memiliki keindahan tersendiri. Bahkan bukan cuma mereka para pendaki yang bercita-cita kesana, saya secara pribadi pun ingin menaklukan puncak cartenz ini hanya sekedar ingin berfoto disana, tapi apa daya tangan tak sampai.

Selain aksesnya yang susah, saya memang bukan pendaki gunung walaupun keinginan kesana sangat besar melebihi besarnya gunung yang merupakan satu-satunya Gletser Tropika di Indonesia ini (Indonesia tentunya bangga punya cartenz pyramid).

Saya pernah ngobrol dengan beberapa orang yang bekerja sebagai pemandu wisata untuk mengantar para turis yang ingin mendaki di puncak cartenz ini. mereka dari Adventure Indonesia. sebenarnya saya lupa nama mereka (sorry om) tapi yang saya ingat dia adalah salah satu dari sekian bayak orang Manado yang menjadi pendaki gunung dan sudah pernah mendaki di Himalaya sana. mereka mengatakan kalau untuk ke Puncak Cartenz tidak hanya saja bisa mendaki, tapi harus memahami bahwa di daerah ini mempunyai medan yang berat, proses perijinan yang sungguh mati rumitnya, serta jaminan keamanan ketika proses pendakian, sebaiknya yang mau mendaki haruslah memanfaatkan jasa agen perjalanan yang berpengalaman yang mempunyai reputasi internasional. (mungkin maksud dia seperti agen perjalanan dimana dia bekerja).

Ada dua alternatif yang di tawarkan oleh mereka yaitu alternatif klasik melalui Desa Ilaga, atau yang mau lebih santai bisa menggunakan Helikopter menuju Base Camp Bukit Danau kemudian menuju puncak cartenz dan semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit (bisa ratusan juta untuk satu group).

Mendengar cerita seperti itu dalam pikiranku benar-benar sulit untuk bisa naik ke sana. walaupun saya lahir dan besar di papua tidak menjamin dengan mudah bisa sampai ke puncak yang namanya di ambil dari penemunya seorang pelaut asal Belanda John Carstensz yang menyaksikan adanya puncak gunung yang tertutup oleh es di negara equator.

Tadi saya sempat membaca sebuah postingan menarik tentang cartenz, pegunungan jayawijaya papua dari blog ini. ada seorang wanita muda cantik yang beruntung bisa sampai ke tempat yang sama oleh Jhon Carstensz pada tahun 1962 merupakan orang eropa pertama yang menyaksikan puncak cartenz dengan “mata kepalanya” sendiri. membaca tulisannya saya cukup senang membaca perjuangannya yang bisa sampai ke cartenz dengan segala macam persoalannya. walaupun akses yang dia gunakan tidak sama dengan yang di ceritakan oleh om di atas, melainkan melalui jalur perusahaan dimana dia bekerja. dan dari ceritanya itu saya berasumsi bahwa untuk menembus puncak cartenz ada tiga jalur akses. wow.. semakin banyak akses yg kita tau semakin besar peluang untuk bisa menyentuh cartenz bukan…?😀.

Ada satu moment penting dalam hidup terhadap pegunungan yang ada saljunya ini. ketika suatu hari saat akan meninggalkan bandara timika menggunakan pesawat garuda indonesia menuju jayapura. take off kira2 pukul 08.35wit (itu yg saya lihat di kartu boarding) karena saat itu sy kurang memperhatikan apa yang di sampaikan crew cabin garuda indonesia meskipun mereka sudah meyampaikan waktu take off pada hari itu. seingat saya waktu itu saya sedang mngantuk karena malam sebelumnya saya sepertinya habis begadang dan ke bandara mozes kilangin juga telat nyaris ketinggalan pesawat (untung saya orang penting makanya pesawatnya tungguin :D) selain mengantuk saya juga berfikir kapan bisa datang lagi ke kota ini untuk motret😉 sambil memandang terminal bandara yang mungil tapi mengasikan dan bersih itu… sebenarnya sih sedang Galau a.k.a gampang lapar ulang secara bangun telat, gak sempat sarapan dan tiba2 sudah ada di dalam pesawat.

Pilot dengan pengalamannya men-take off-kan pesawatnya dengan sangat baik di disaat cuaca timika saat itu begitu cerah dan seketika itu juga saya menutup jendela dan menyandarkan kepala di jok kursi pesawat plat merah terbaik di republik ini untuk sekedar menghilangkan ngantuk sisa begadang semalam. dan sesekali terganggu dengan senyuman manis pramugari yang menawarkan snack dan pilihan minuman yang ada.

Belum lima belas menit di udara dengan ketinggian kira-kira di mungkin 9000m kah.. (sa lupa juga) salah satu crew cabin meminta para penumpang untuk membuka kaca jendela dan para penumpang di persilahkan untuk melihat keluar, saat itu saya duduk persis di dekat jendela sebelah kiri dari pesawat. crew cabin menginformasikan bahwa yang sekarang terlihat dari jendela sebelah kiri adalah Puncak pegunungan Jayawijaya yang di selimuti salju. sungguh suatu keberuntungan bagi saya karena pertama saya mempunya tempat duduk persis di dekat jendela deretan sebelah kiri dan keberuntungan berikutnya adalah saat itu cuaca sangat cerah dan awan tidak banyak (beberapa kali terbang dari timika ke jayapura selalu berawan) yang memungkinkan saya bisa melihat keindahan salju abadi dengan “Mata Kepala” sendiri.

Sungguh suatu kebahagiaan bisa menyaksikan keindahan ini dari atas yang membuat saya berfikir bahwa untuk ke puncak cartenz sebelumnya saya mengenal ada 3 jalur yaitu 2 jalur dari agen perjalanan yang harganya sungguh diluar jangkauan, dan 1 akses melalui jalur perusahaan PT. Freeport Indonesia yang mana ketiga jalur itu walaupun memungkinkan namun susah untuk saya menembusnya karna selain harus menyiapkan dana yang sangat besar, saya juga harus jadi karyawan perusahan besar itu dulu?.

Melihat pegunungan ini dari atas bagaikan sebuah permadani raksasa indah berwarna hitam yang di selimuti oleh tudung putih cerah secerah hatiku saat itu karena walaupun jauh di bawah sana dia terasa begitu dekat sekali. akhirnya saya telah menemukan jalur ke empat untuk bisa menyentuh kelembutan dan kecantikan puncak cartenz cara terindah yang bisa saya tempuh tidak harus mengelarkan dana yang besar dan tentunya bersifat tacit karena cuma saya yang bisa merasakannya yaitu I Touch Cartenz Pyramid With The heart.[]

Salam,

Nur Alam MN

2 responses to “I touch Cartenz Pyramid with the heart…

  1. Wah! mas Alam ini.. ga moto ga nulis semua nya jago.. memang puitis dan romantis pisan.. bagus tulisan mu.. suka baca nya.. tapi, aku diajarin donk cara nyentuh Cartenz dengan hati.. biar aku bisa bolak balik ke sana.. hehehehe…

    • Makasih…🙂

      ini posisinya pas kebetulan sekali, punya pengalaman tiu dengan cartenz, pas baca tulisannya eh dapat inspirasi dari tulisan itu..

      Aku belajar Darimu..
      Dan Aku Menuliskannya🙂

Silahkan tinggalkan komentarnya... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s