Aidan, Aiman, dan hal-hal kecil yang bermakna besar.

Aidan & Aiman Mirror. Photo Taken with HTC Sensation By Nur Alam MN

Aidan & Aiman in Mirror. Photo Taken with HTC Sensation By Nur Alam MN

Anak saya yang pertama zHaquelle Aidan An-Noer Wanggai, Sekarang ini berusia genap 6 tahun di november 2012 ini, sekarang bersekolah di Tk Bhayangkara Auri Angkasa. yang tidak jauh dari tempat tinggal kami yang juga di daerah angkasa Jayapura.

Aidan, begitu biasa saya memanggilnya atau zHaq, panggilan teman-teman sekolahnya mempunyai satu kesenangan yaitu, sangat senang sekali kalau mendapatkan undangan ulang tahun temannya baik yang biasa di adakan di sekolahannya ataupun di tempat lain.

Umumnya, orang tua dari teman-temannya zhaq ini adalah teman2 saya dan istri saya juga. kami saling mengenal bukan karna anak-anak kami berada di satu sekolah yang sama tapi juga memang mereka adalah teman sekolah kami juga dulunya. yang kebanyakan dari mereka kalau membuat acara ulang tahun untuk anak2nya umumnya diadakan di satu tempat yang menyediakan paket ulang tahun untuk anak, para orang tua siap membayar saja dan tidak perlu repot2 urusin hal-hal besar apalagi hal kecil.

Putra saya yang kedua adalah zLatan Aiman An-Noer Wanggai, tahun ini dia berusia 2 tahun (bulan Juni nanti), pastinya sama sekali belum mengerti apa itu ulang tahun, apalagi undangan ulang tahun. tapi sepertinya dia mempunyai kesenangan yang sama dengan kakaknya. apabila kami membawanya ikut menghadiri acara ulang tahun baik ulang tahun teman sebayanya sendiri atau teman dari kakaknya.

Walaupun acara yang di pandu oleh MC atau siapa saja yang sedang mngarahkan acara agar lebih tertib, mereka berdua senangnya berkeliaran dalam ruangan sambil mengajak teman yng lain untuk main aja dari pada duduk tungu waktu potong kue atau waktu disuruh menyanyi atau waktu di suruh antri untuk mengambil bingkisan ulang tahun yang di bagi2kan ke mereka semuanya yang hadir. mereka berdua, terutama Aidan, susah sekali untuk hanya diam di tempat duduk yang sudah disiapkan untuk mereka, bangku kecil warna warni itu, biasanya ada empat sampai enam anak mengikuti Aidan bermain kejar-kejaran.

Kalau dari kacamata kita orang dewasa, hal seperti ini tidak lazim karena hal tersebut sangat tidak beretika, dimana suatu acara sedang berlangsung, kita tidak duduk diam tapi malah mondar-mandir bahkan mengajak rekan lain untuk ngobrol misalnya. tapi untungnya mereka hanyalah anak-anak yang isi kepalanya tidak sama dengan kita yang sudah dewasa.

lucunya, walau semua anak2 itu tidak saling mengenal, tetapi secara otomatis mereka bisa bermain bersama seakan-akan mereka itu sudah saling kenal sejak lama, dan baru ketemu lagi pada satu kesempatan yang sama. Pemandangan akan berbeda dengan orang dewasa yang belum tentu bisa cepat akrab dengan orang “Asing” yang baru mereka lihat bahkan tidak jarang sikap “yang penting bukan dluan yang negur” kerap terjadi.

Di ranah kelompok, juga sering saya liha bahwa ada satu kelompok yang susah sekali bisa membaur dengan kelompok lain karena biasanya mereka merasa paling benar. alasan tidak mau membaur karena “mereka bukan kaum kita”. sifat “ekslusif” seperti ini mungkin perlu di revisi lagi mumpung masih bisa bernafas dan mumpung masih banyak orang di luar sana yang sebenarnya mau menerima kita apa adanya asalkan kita juga bisa menerima mereka apa adanya.

Ada dua hal kecil yang bisa saya ambil dari apa yang di perlihatkan anak saya pada kebiasan dia.

Pertama, dia akan sangat senang sekali kalau bisa mengajak orang lain keluar dari kebiasaan yang sudah di tentukan. kalau ini dilihat sebagai sesuatu yang salah, its ok itu urusan lain. disini saya melihat, kalau anak2 senang dengan hal tersebut jangan di larang toh mereka masih anak-anak dan semua yang mereka lakukan masih di bawah pengawasan yang bisa kapan saja saya intervensi dalam kewajaran tertentu, dan kesenangan atau kebahagian anak tidak perlu terlalu di intervensi. karena pengalaman anak-anak tentu beda dengan pengalaman kita orang dewasa. saya akan tetap membiarkan mereka melakukan hal yang menurut kita hal kecil yang mengganggu bahkan mungkin terlalu sederhana untuk di pikirkan. tapi bagi anak kecil mungkin itu sesuatu yang luar biasa bagi pengalaman mereka dan ini bisa menjadi pengalaman yang bisa jadi berharga yang munkin saja mendalam dan berpengaruh bagi perkembangannya nanti. tidak penting apa yang kita (orang dewasa) pikirkan tapi sangat penting bagi apa yang mereka rasakan. bukankah Small things do matter to children?

Kedua, “penerimaan” antara mereka. ini juga hal sederhana bagi kita, hal kecil bagi kita tapi coba kita terapkan apa yang mereka anak-anak itu lakukan kedalam kehidupan sosial kita baik secara individu ataupun kelompok, yang tidak serta merta menolak orang lain, kelompok lain hanya karena (asumsi) mereka bukan kaum kita atau kita yang selalu merasa paling benar dari semuanya atau mereka itu orang asing yang budayanya tidak sesuai dengan budaya kita. kalau ini yang di pelihara mana mungkin kita akan bersatu di negara yang Plural ini? itu mustahil kan? Masa’ kita orang dewasa kalah sama anak kecil?[]

Salam,

Nur Alam MN

2 responses to “Aidan, Aiman, dan hal-hal kecil yang bermakna besar.

  1. setuju.. emang kita juga teteap harus belajar dari siapapun.. no matter what no matter how.. jangan membatasi pola pikir dan cars belajar anak dan kita…

Silahkan tinggalkan komentarnya... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s